Kadang aku berpikir, sampai kapan sih aku ditugaskan di Batam, kota gersang dengan musim tak menentu ini? Tapi ya, pertanyaan tetaplah sekadar pertanyaan. Tanpa jawaban. Begitulah.
Sejak pindah tugas, tepatnya dipindah-tugaskan dari Pekanbaru ke Batam, Desember 2005 yang lalu, aku tak pernah mencoba mengitung akan berapa lama aku berada di sini. Sebab, senior-seniorku dari Pekanbaru tidak ada yang bertahan lama di kota ini. Pada posisi ketika aku dipindahkan, pemimpin redaksi di Batam Pos, yang paling hanyalah Amzar. Dia bisa 3,5 tahun di Batam dengan posisi yang sama. Sebelum-sebelumnya, tidak ada yang lama. Misalnya saja Mafirion, Helmi Burman, Eddy Mohd Yatim, dan beberapa nama lain, seperti R Isyam Azwar dan Erianto Hady.
Nah, yang paling lama itu sebenarnya Ade Adran Syahlan. Seniorku di Riau Pos itu sejak dipindahkan dari Pekanbaru tahun 2000 lalu, sampai sekarang masih betah saja di Batam. Hebatnya, pernah dua kali jadi pimpinan umum, pertama PU Batam Pos sampai 2005, lalu kini PU Posmetro, entah sampai kapan, he...he...
Kini, hampir tiga tahun aku ditugaskan di Batam. Rasanya, perasaan jemu mulai menggangguku. Ada betulnya kata kawan-kawanku bahwa Batam ini kota yang tak begitu bersahabat. Suasananya penuh egoisme, tipis sekali rasa kekeluargaan. Mungkin karena orang di sini kebanyakan berasal dari latar belakang yang berbeda, dan umumnya perantau yang memiliki obsesi sendiri-sendiri: harus berhasil di tanah orang. Akibatnya, tak jarang saling sikut lebih menonjol dibanding kekeluargaan.
Hmmm... Tapi tentu saja aku tak boleh menyerah. Aku anak sini kok. Aku lahir dan dibesarkan di Natuna, masih satu provinsi dengan Batam, yakni Provinsi Kepri. Seluruh keluarga besarku telah beranak-pinak sejak puluhan tahun lalu di Natuna. So, mengapa harus mundur? Aku bisa mengabdikan diri untuk kemajuan daerahku, lebih besar lagi untuk kemajuan provinsiku.
Yang jelas, tugasku kini bertambah berat. Aku tidak lagi sekadar seorang praktisi redaksi di Batam Pos. Posisiku dulu di redaksi, sejak 2008 sudah kutinggalkan karena aku mendapat tugas baru sebagai penjual koran Batam News. Tapi aku masih merangkap sebagai salah satu pimpinan di Batam Pos. Artinya, tugasku sebenarnya bertambah berat; di dua koran sekaligus. Harusnya aku bisa membanggakan diri; dua koran, men! Namun karena di Batam Pos sudah terlalu banyak yang ngurus dan sepertinya mereka tidak memerlukan bantuanku, jadinya aku lebih banyak mencoba belajar jadi penjual koran saja di Batam News. Yah, siapa tahu aku bisa menjadi penjual yang baik.***
Thursday, 28 August 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)

