Monday, 1 September 2008

Puasa Pertama bersama Anak dan Maag

Alhamdulillah, puasa hari pertama berhasil dilalui Abin, anak sulungku, meskipun setengah hari saja. Tadi, sejak pagi, kata bundanya, sebenarnya Abin sudah merengek-rengek minta minum. Maklum, biasanya, kalau pagi, dia pasti minta sarapan dan segelas susu. Itu kebiasaan sejak dia harus pagi-pagi bangun berangkat sekolah di Harapan Utama (HU). Maklum, jalan dari rumah menuju HU cukup macet kalau pagi.

Kalau melihat usianya, belum wajib sih melaksanakan shaum di bulan Ramadan ini. Belum genap tujuh tahun kok. Meskipun sebagian anak sejak umur 6 tahun sudah dibiasakan berpuasa Ramadan, namun aku tidak akan memaksakan anakku menjalaninya. Toh, tidak perlu buru-buru mewajibkan kepada anak seusianya untuk berpuasa. Yang paling penting adalah memperkenalkan kepadanya tentang makna shaum itu sendiri. Soal apakah dia bisa menjalaninya secara penuh, nanti kan ada waktunya.

Selain itu, kalau dipaksakan berpuasa saat ini, kasihan juga sih. Sebab, sekolahnya hanya diliburkan tiga hari di awal Ramadan dan tiga hari menjelang lebaran. Praktis, proses belajar-mengajar berlangsung normal, kecuali jamnya saja yang dikurangi 1,5 jam dibanding hari biasa.

Bagi diriku sendiri, puasa kali ini mudah-mudahan tak terasa begitu berat. Sebab, penyakit maag yang kuderita sejak beberapa bulan lalu, sedikit banyak mempengaruhi kesehatan perutku. Namun, berbekal keyakinan dan mengharap pertolongan-Nya, serta tentu saja obat, mudah-mudahan tidak masalah dengan perutku nanti. Lagian, ini kan baru puasa hari pertama, kok. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan padaku agar dapat berpuasa sebulan penuh. Amin.***

No comments: