Kasihan istriku. Dia harus mengolah dua anak-anak kami setiap hari tanpa pembantu. Yang diolahpun nakalnya minta ampun. Belum lagi ngurus ayahnya yang tak kalah bandel....
Baik, supaya Anda semua tahu karakter anak-anakku, berikut kutuliskan serba sedikit.
Anakku yang pertama namanya Abin, dari nama lengkap Bintana Putera Casandra. Lahir di Penyengat, tahun 2002. Sekarang dia kelas satu di sebuah SD swasta. Di sekolahnya di bilangan Batam Center, selain bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, juga diajarkan bahasa Mandarin dan English. Sebab itu dia menyebut gurunya sebagai Mr atau Miss, sementara guru Mandarinnya dia panggil Lause (eh, benar gak, nak?).
Tiap hari, dia sekolah dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Tapi diantar ke sekolah lebih pagi, sekitar pukul 07.00, karena jalan dari rumah kami ke sekolahnya lumayan macet. Nah, cerita macet ini, karena ruas jalan di Batam segitu-segitu saja, sementara jumlah kendaraan terus bertambah. Yang bikin pusing, kadang pengendara motor yang kadang suka seenaknya menggunakan jalan. Maaf, ya para pengendara motor, kadang karena kelakuan "oknum" pengojek, kamu semua dapat umpatan dari pengendara lainnya.
Nah, setiap pagi Abin bangun pukul 06.00. Cuma, mandinya minta ampun susahnya. Disuruh, diteriaki, kadang baru mandi. Kalau sudah di kamar mandi, lamanya minta ampun. Sampai-sampai bundanya harus "menggertak", barulah dia menyudahi mandi sambil ngomel pula.
Susahnya kalau pas dia lagi mandi, eh, bangun pula si kecil, Naufal. Alamat riuh-rendah seisi rumah karena suara mereka bertiga: anak dan ibu. Sementara saya suka meringkuk di tempat tidur kalau masih terlalu pagi. Tapi tak jarang suka terbangun dengar kesibukan mereka di pagi itu.
Nah, kalau keduanya sudah bangun, bisa dibayangkan bagaimana ramainya rumah. Tangisan, gurauan, tertawa, dan kekesalan si bunda, bercampur di pagi itu. Hampir setiap pagi. Inilah asyiknya punya anak laki-laki. Laki-laki semua! Ketika si abang mandi, yang kecil pun minta mandi cepat-cepat. Kadang, berteriak "Mau pipiiiiiisss!" Padahal, kamar mandi masih dipakai si abang. Kalau sudah begitu, si adik pastilah ke lantai dua, menggedor pintu kamar tidurku, lalu seenaknya buang hajat di kamar mandi atas. Jadinya, dia yang selalu membangunkanku.
Hebat istriku. Ketika mempersiapkan kedua anak kami untuk ke tujuan masing-masing (Abin ke sekolah, Naufal dititip di rumah teman yang juga tetangga), dia harus mempersiapkan diri untuk kegiatan rutinnya di gym. Saya memang menyuruhnya ikut senam, supaya tetap disayang suami, ha..ha...
Nah, istriku tiap pagi juga mempersiapkan sarapan untuk kami, lalu segelas susu untukku. Sebenarnya aku benci susu, kecuali susu yang itu (tahu kan?). Namun setelah aku divonis mulai terkena gejala maag beberapa bulan lalu, dokter menyarankan meninggalkan kopi dan teh, termasuk minuman berpengawet. Hanya susu bubuklah yang kemungkinan kadar pengawetnya paling rendah. Atau kalau tidak, yang tanpa pengawet sama sekali, ya susu yang satu itu, hahahaha... Hush!
Setelah Abin berpakaian, lalu sarapan, biasanya Naufal Anugerah Ramadhan tidak ikut dimandikan. Sebab, dia biasa dibekali pakaian dan sebotol susu ketika dititipkan ke rumah teman itu. Kalau sudah dimandikan dan berpakaian rapi, biasanya dia tidak mau dititipkan, tapi pingin ikut bundanya ke sekolah abang. Makanya, pagi-pagi Naufal jarang dimandikan di rumah. Hanya dibekalkan pakaian dan susu ke rumah teman itu. Iming-imingnya, Naufal pergi jalan sama Kak Rahel, nama anak teman kami itu.
Usai menitipkan Naufal, istriku mengantar Abin ke sekolahnya. Macet tiap pagi. Setelah memastikan Abin masuk ke kelas, barulah istriku beranjak ke gym di seputaran Penuin. Karena Abin pulangnya jam empat sore, sepulang dari senam, istriku kembali menjemput Naufal dan kembali pula berkutat di rumah, seorang diri, tanpa pembantu. Mencuci, menyeterika, berers-beres rumah, memasak, dan lain-lain dikerjakannya sendiri. Kasihan aku melihatnya. Padahal, sebelum menikah, istriku termasuk anak mama dan jarang diberi pekerjaan seperti itu. Tapi sejak pembantu kami berhenti setahun yang lalu, dia malah tidak mau dicarikan penggantinya.
"Bunda bisa kok kerja sendiri. Bunda 'kan pengangguran. Ijazah sarjana ekonomi bunda belum lagi laku. Jadi, biarlah bunda kerja di rumah tangga aja," begitu sindirnya selalu. Aku cuma bisa tersenyum kecut, karena memang belum berhasil mencarikannya pekerjaan. (bersambung)
Tuesday, 11 November 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment