Thursday, 13 November 2008

Kehidupan Kecil di Rumah Tanggaku (2)

Kemarin, aku tiba kembali di Batam dari Pekanbaru. Aku ke Pekanbaru menjemput pembantu yang dicarikan oleh ayahku di sana. Kabar soal pembantu itu kuperoleh tiga hari menjelang keberangkatanku ke Pekanbaru. Kata ayah, ada seorang pembantu rumah tangga yang dulunya kerja di Palembang sekitar tiga tahun, bersedia bekerja dengan keluargaku di Batam. Syaratnya, harus dijemput sendiri, mengingat dia belum pernah ke Batam dan belum pernah naik pesawat!

Akhirnya, aku yang berangkat menjemputnya. Pergi ke Pekanbaru hari Senin, kembali keesokan harinya. Beruntung seorang teman (maaf, namanya diedit) berhasil mencarikan tiket gratis Batam-Pekanbaru (PP) untukku, sehingga aku tinggal membeli tiket untuk si pembantu dengan rute Pekanbaru-Batam.

Nah, malam tadi anak-anakku sudah kubiasakan tidur di lantai bawah. Tapi, tengah malam, sekitar pukul 01.00 WIB, si kecil bangun dan nangis. Rupanya dia batuk-batuk dan kemudian muntah. Sudah lama juga dia batuk, padahal sudah dibawa ke dokter. Siang ini istriku berencana membawanya lagi ke dokter di Nagoya. Beruntung dia tidak minta pindah ke bundanya yang mulai tadi malam kembali menemaniku di lantai atas. Biasanya, aku tidur sendiri di atas, istri dan anak-anakku di bawah. Sebab, akan mudah bagi mereka setiap pagi untuk persiapan ke sekolah, gym, dan menitipkan Naufal.

Mulanya tidak ada masalah. Tapi pas jam lima subuh tadi, si kecil terbangun dan langsung menangis mencari ibunya. Dia tahu persis ibunya tidur di atas dan langsung mengetuk kamar kami. Saat itu pukul 05.00 WIB dan mata masih tanggung untuk bangun. Ahirnya, istriku membukakan pintu dan Naufal naik ke ranjang kami. Dia terlelap sampai pagi di sana.

Yah, selama ini memang dia terbiasa tidur dengan ibunya. Sedangkan si abang, Abin, sudah bisa diberi pengertian dan bisa ditinggalkan di lantai bawah. Maklumlah, Naufal baru saja berulang tahun ketiga, Oktober lalu. Sedangkan Abin sudah kelas satu SD.

Well, istriku kini sudah ada temannya di rumah. Ini bisa memberikan kesempatan buatnya untuk berkegiatan, yah, minimal ke gym setiap paginya. Syukur-syukur bakal bisa kerja nantinya. Sebab, ijazah sarjana ekonominya masih nganggur. Demikian pula anak-anakku, sudah ada yang ngurus. Memang, cari pembantu sekarang susah-susah gampang. Mudah-mudahan yang ini bisa bertahan lama, sehingga aku pun bisa lebih konsentrasi bekerja di kantor.(habis)***

No comments: