Tuesday, 25 November 2008

Lupa Bawa Bunga, Abin Marah

Abin tadi marah besar dan gak mau memaafkan aku. Pasalnya, aku lupa menyiapkan setangkai bunga seperti permintaannya, kemarin. Padahal, dia sudah mengatakannya kepadaku waktu pulang sekolah kemarin. Eh, dasarnya aku emang pelupa, sampai dia ke sekolah tadi, udah marah-marah di mobil ke bundanya.

"Bun, mana bunganya?:

"Lho, bunga apa?"

"He...kan Abin udah bilang ke ayah, hari ini miss nyuruh bawa bunga ke sekolah".

"Wah, Ayah gak ada cerita ke Bunda. Lagian, waktu kita pergi tadi kan Ayah masih tidur".

"Itulah Ayah itu. Abin udah bilang hari ini bawa bunga ke sekolah...huuuu...huuuu" dia mulai nangis.

Aku memang lupa mengatakannya ke istriku semalam. Sebab, waktu Abin mengatakannya sore kemarin, kami lagi sibuk mempersiapkan diri untuk bermain bersama. Raket murahan yang kubelikan sehari sebelumnya di sebuah supermarket, belum lagi kami sentuh. Makanya, pas pulang sekolah kemarin, dia semangat mengajakku main badminton di jalan depan rumah. Pokoknya, asal pukul aja.

Waktu pulang sekolah tadi, istriku nelpon.

"Ayah kok gak ngasih tahu ke Bunda soal bunga itu?"

"Bunga yang mana?"

"Yang disuruh bawa ke sekolah oleh miss-nya"

"Oh my god! Ayah lupa... Trus, gimana?"

"Iya nih, Abin nangis. Cuma dia yang gak dapat bunga tadi, kan mereka saling tukeran bunga. Ini kan memperingati Hari Guru".

"Yaaa...gimana lagi, namanya juga lupa. Mana Abin, Ayah mau ngomong ke dia".

"Halo Abin.... "

"Ayah ini, Abin gak bawa bunga tadi ke sekolah.. haaaaa....." yah, nangis lagi tuh anak.

"Trus... Abin dimarahin miss?"

"Iya.... Abin juga gak dapat bunga dari teman Abin... Berdua kami gak dapat bunga di kelas....huuuuu" tangisnya tambah kencang.

"Ayah minta maaf, nak. Mau kan maafin ayah? Ayah lupa. Habis, kemarin kan kita langsung main bulutangkis, eh, jadi lupa. Lagian, Abin kan tidurnya cepat semalam, jadi Ayah gak sempat ngasih tahu ke Bunda".

"Gak mau..."

"Abin gak mau maafin Ayah?"

"Enggak...huuu"

"Ya sudah, mana Bunda?"

"Ya Yah... "

"Gak apa-apa, biar saja dia nangis dulu, nanti juga diam".

Aku menutup telepon. Nanti sore, aku akan membujuknya di rumah.***

No comments: