Thursday, 4 September 2008

Badan Menggigil, Hampir Berbuka

Rabu kemarin, usai salat Zuhur di Masjid Raya Batam Center, tiba-tiba badanku pegal-pegal. Waktu rukuk dan sujud, terasa tulang-tulangku ngilu sekali. Tubuhku dingin sekali. Menggigil. Cepat-cepat aku beranjak dari masjid kembali ke kantorku yang terletak persis di depan masjid.

Sampai di kantor, aku berbaring di atas sofa, mencoba memejamkan mata. Namun, rasa dingin menusuk-nusuk tulangku. Aku gelisah. Balik ke kanan, lalu ke kiri. Tak bisa memejamkan mata.

"Jal, awak kedinginan tidak?" tanyaku ke Rizal,
teman satu kantor.

"Iya, Bang," balasnya.

"Tapi saye kedinginan sekali. Tak seperti biasenye 'ni," kataku lagi sambil bangkit dari sofa dan menyelimutkan sajadah ke pundakku.

Aku bergegas ke meja, mengemas laptop pribadiku. Aku memang terbiasa menggunakan laptop pribadi sejak pindah dari lantai 2 ke lantai 1 Graha Pena. Pasalnya, di mejaku memang belum disediakan PC oleh perusahaan. Jadinya, aku terbiasa menggunakan laptop yang kubeli dengan cara mencicil, beberapa bulan lalu. Sebenarnya, bisa saja aku mengusulkan pengadaan PC untukku, tapi aku lebih mengutamakan redaksi dulu.

"Jal, saye balik dulu. Tak kuat lagi ni, sejuk betul," kataku sambil berlalu.

Di jalan, aku menelpon istriku.

"Bun, Ayah pulang ya? Udah di jalan nih," kataku.

"Lho, kok cepat pulangnya, Yah?"

"Iya nih, dingin sekali, meriang," jawabku.

"Ya sudah, pulang aja, istirahat dulu di rumah".

Sampai di rumah, aku langsung mengganti pakaian dan naik ke lantai dua. Aku tarik selimut tebal, tetap saja dingin. Luar biasa menusuknya.

"Ayah mau berbuka?" tanya istriku, Sandra.

"Ah, tidaklah. Insya Allah Ayah masih kuat puasa".

"Ya sudah, istirahat saja".

Aku teringat, malam sebelumnya terkena hujan gerimis. Waktu menuju masjid di sekitar rumah hendak tarawih bersama anakku, Abin, memang gerimis saat itu. Pulangnya begitu juga, masih gerimis. Padahal, aku paling pantang terkena gerimis. Sudah sejak dulu, kalau tak sakit kepala, ya panas dingin begini akibatnya.

Setelah tertidur hampir dua jam, kurasakan suhu tubuhku tidak lagi sepanas tadi. Sudah agak ringan, lumayan. Alhamdulillah, malamnya aku berbuka dengan tiga biji korma dan segelas susu. Masih ditambah dua potong kue lopis yang tadi dibeli istriku di Pasaraya. usai salat Magrib, belum ada selera menyentuh nasi. Aku hanya tidur-tiduran sambil nonton TV. Satu jam kemudian barulah aku mencoba makan nasi. Alhamdulillah, hari ini aku benar-benar sehat. Hazbunallah wa nikmal waqil.***

Monday, 1 September 2008

Puasa Pertama bersama Anak dan Maag

Alhamdulillah, puasa hari pertama berhasil dilalui Abin, anak sulungku, meskipun setengah hari saja. Tadi, sejak pagi, kata bundanya, sebenarnya Abin sudah merengek-rengek minta minum. Maklum, biasanya, kalau pagi, dia pasti minta sarapan dan segelas susu. Itu kebiasaan sejak dia harus pagi-pagi bangun berangkat sekolah di Harapan Utama (HU). Maklum, jalan dari rumah menuju HU cukup macet kalau pagi.

Kalau melihat usianya, belum wajib sih melaksanakan shaum di bulan Ramadan ini. Belum genap tujuh tahun kok. Meskipun sebagian anak sejak umur 6 tahun sudah dibiasakan berpuasa Ramadan, namun aku tidak akan memaksakan anakku menjalaninya. Toh, tidak perlu buru-buru mewajibkan kepada anak seusianya untuk berpuasa. Yang paling penting adalah memperkenalkan kepadanya tentang makna shaum itu sendiri. Soal apakah dia bisa menjalaninya secara penuh, nanti kan ada waktunya.

Selain itu, kalau dipaksakan berpuasa saat ini, kasihan juga sih. Sebab, sekolahnya hanya diliburkan tiga hari di awal Ramadan dan tiga hari menjelang lebaran. Praktis, proses belajar-mengajar berlangsung normal, kecuali jamnya saja yang dikurangi 1,5 jam dibanding hari biasa.

Bagi diriku sendiri, puasa kali ini mudah-mudahan tak terasa begitu berat. Sebab, penyakit maag yang kuderita sejak beberapa bulan lalu, sedikit banyak mempengaruhi kesehatan perutku. Namun, berbekal keyakinan dan mengharap pertolongan-Nya, serta tentu saja obat, mudah-mudahan tidak masalah dengan perutku nanti. Lagian, ini kan baru puasa hari pertama, kok. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan padaku agar dapat berpuasa sebulan penuh. Amin.***